Masyarakat Sulawesi Selatan agak ketat memegang adat
yang berlaku, utamanya dalam hal pelapisan sosial. Pelapisan sosial masyarakat
yang tajam merupakan suatu ciri khas bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Suku Makassar
memiliki tiga lapisan sosial. Ketiga lapisan sosial tersebut adalah:
1)
Ana’ Karaeng
2)
To Maradeka
3)
Ata.
v Lapisan pertama adalah anak raja yang bobot
kebangsawanannya masih murni dan dapat mewarisi kerajaannya. Lapisan pertama
dapat dibagi atas 4 bagian yaitu :
Ana’ Ti’no, terbagi :
a. Ana’ Pattola,yaitu berhak mengganti raja.
b. Ana’ Manrapi, ia dapat menggati raja
jika Ana’ Pattola tidak ada
atau dianggap kurang mampu untuk menduduki tahta.
ü Ana’ Sipuwe, dapat dibagi:
a. Ana’ Sipuwe Manrapi, yaitu anak yang
lahir dari ayah To’no (Pattola/Manrapi) dan ibu dari
golongan yang tingkatnya di bawah Ana’
Ti’no, Ana’ Sipuwe Manrapi dapat diangkat menjadi raja (Somba ri Gowa).
b. Ana’ Sipuwe, yaitu anak yang lahir
dari Ana’ Pattola atau Ana’ Manrapi dengan ibu dari To Maradeka (bukan hamba) atau orang
baik.
ü Ana’ Cera’, yaitu anak yang lahir dari Ana’ Pattola atau Manrapi
dengan ibu dari kalangan budak.
ü Ana’ Karaeng Sala, yaitu anak yang lahir dari Ana’ Sipuwe atau Ana’
Cera dengan ibu dari ibu orang merdeka.
v Lapisan kedua Suku Makassar disebut dengan To Maradeka. Lapisan ini juga dapat dibagi
atas dua bagian yaitu : Tobaji dan Tosamara
(sama pada pelapisan Suku Bugis).
v lapisan ketiga suku Makassar disebut dengan Ata. Bagi
Suku Makassar, Ata dibagi
kepada tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut adalah :
a.
Ata Sossorang,
b.
Ata Ribuang
c.
Ata Tai Jangang.
Yang tergolong lapisan pertama adalah budak
turun-temurun dan biasanya diperbudak oleh satu keluarga.
Yang termasuk
lapisan kedua adalah budak karena hukuman, budak yang karena berbuat kesalahan
sehingga ia dijatuhi hukuman atau dia kalah dalam peperangan.
Lapisan ketiga
yaitu orang yang diperbudak oleh orang yang pernah jadi budak (To Samara).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar