1. PENGERTIAN KOTA.
Berbicara
tentang kota terutama dalam lingkup gerak dan dinamika perkembangannya dari
masa ke masa,dapat dipastikan mempunyai ciri dan kekhasan tersendiri sehingga
dalam memahaminya membutuhkan sebuah proses penjiwaan dan imajinasi history
terhadap zamannya.
Malville C. Branerch dalam buah penanya yang di terjemahkan
oleh Wisono berjudul “ perencanaan kota
komprehenship: pengantar dan penjelasan “ menjelaskan beberapa pandangan
yang berbeda- beda tentang kota dari berbagai bidang.
Pertama
kalangan pakar geografi mengemukakan pendapatnya tentang kota adalah
unsur-unsur fisik dan lingkungan sekitarnya antara lain situasi ,tapak ,kemiringan tanah,iklim,vegetasi
dan jalan.
Kedua, pakar ekonomi mengemukakan pendapatnya tentang kota
adalah suatu tempat atau wilayah untuk melakukan kegiatan ekonomi seperti
pembuatan barang-barang untuk menghasilkan keuntungan dan penyediaan berbagai
pelayanan,penanaman modal dan perpajakan.
Ketiga,
sosiologi melihat kota sebagai suatu wilayah dan di dalamnya terdapat
penggolongan penduduk berdasarkan tingkat umur,jenis kelamin,status
perkawinan,latar belakang etnis (kesukuan) dan kategori lainnya.
Keempat, arsitek memandang kota dengan cara menaruh
perhatian utama pada aspek-aspek aristektural seperti bangunan-bangunan tunggal
ataupun kelompok bangunan, ruang-ruang terbuka di dalam dan sekitarnya serta
berbagai peraturan yang berkaitan dengan perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan.
Kelima,para seniman melihat kota sebagai suatu wilayah
atau tempat untuk menimbulkan dorongan pribadi, pendidikan dan peluang yang
berhubungan dengan potensi.
Sosiologi
perkotaan adalah studi sosiologi
tentang kehidupan sosial dan interaksi manusia di wilayah metropolitan. Studi ini adalah disiplin
sosiologi norma yang mempelajari struktur, proses, perubahan dan masalah di
sebuah wilayah urban dan memberi masukan untuk perencanaan dan pembuatan
kebijakan.
Seperti bidang
sosiologi yang lain, sosiolog perkotaan menggunakan analisis statistik,
pengamatan, teori sosial, wawancara, dan metode lain untuk mempelajari
berbagai topik, termasuk migrasi dan tren
demografi, ekonomi, kemiskinan,
hubungan ras, tren ekonomi, dan lainnya.
2. TIMBULNYA KOTA-KOTA.
Berdasarkan perjalanan sejarahnya, kota awalnya merupakan konsentrasi
rumah tangga yang terletak ditepi sungai yang
diorganisasi mengelilingi penguasa.Kurang lebih 5500 tahun sebelum masehi telah
mulai timbul desa-desa di Asia, antara lain yericho dan yarmo.
ü Kota-kota di Mezopotamia.
Kota-kota
di Mezopotamia, merupakan kota benteng dan menjadi tempat pemasaran bagi produk
pertanian dari daerah-daerah sekitarnya.Kota tua yang paling awal adalah
BABYLON (semula bernama kota babel).
ü Kota-kota dilembah sungai Nil.
Kota tua
dilembah sungai Nil adalah kota Mesir yang bernama kota Gize atau
Giza.Kota-kota pada zaman kuno terdapat di Amerika tengah yaitu kota
Maya.Sementara kota di wilayah Asia yang sampai sekarang terus aksis adalah
kota Damaskus di Syiria.Bangsa yang membangun kota pada zaman kuno umumnya
adalah bangsa yang telah mempunyai peradaban tinggi serta memiliki mata
pencaharian pertanian dan perdagangan.
ü Kota-kota di lembah Indus, Tiongkok dan Asia Tenggara.
Kota-kota
di lembah Indus adalah Harappa dan Mahenjodaro.Dimana kota harappa lebih di
kenal dengan peradaban Harappa yakni sebuah kota pada zaman India kuno.Di kota
ini terdapat patung-patung Dewa Dewi, diantaranya sebuah patung yang sangat
mirip dengan Dewa Siwa.Jarak dari kota Harappa ke Mahenjodaro sekitar 400 mil
dan antara kedua kota tersebut di temukan 70 kota, dimana terdapat bangunan
gedung dari batu bata serta tulisan gambar (Piktografik) yang belum terbaca
hingga sekarang. Di Cina kota terdiri dari kota luar (Cina) dan dalam (Tartar).
Pertumbuhan kota berkembang pula di Asia Tenggara. Salah satu kota penting di
kawasan ini adalah Malaka, dimana didalamnya terdapat Tumonguo (walikota),
bendaharawan yang menerima cukai dari perdagangan.
3. PERTUMBUHAN KOTA DALAM SEJARAH.
Merujuk pada teori pertumbuhan secara umum maka
berbicara tentang pertumbuhan kota harus memulai pembicaraan dari bentuk yang
paling sederhana hingga kondisi sempurna.Karena itu harus di kaji dari tahap ke
tahap sehingga perkembangannya menjadi jelas. Menurut Gist dan Halbert, sejarah
kota dibagi atas tahap-tahap : (1) Kota zaman kuno, (2) Kota zaman menjelang
dan selama abad pertengahan, (3) Kota-kota lama di timur tengah dan timur jauh,
(4) Kota-kota di zaman modern.
Untuk
mengetahui pola perkembangan kota, maka ada tiga pola membangun kota dalam
sejarah menurut Choay yakni :
§ Aliran Progresif.
Pada
aliran progresif, pembangunan kota memperhatikan sifat-sifat manusia dan
kebutuhan-kebutuhan pokok manusia serta lingkungan. Dalam membangun lingkungan
diperhatikan sifat-sifat manusia.
§ Aliran kebudayaan.
Kota
dengan pola aliran kebudayaan mengabaikan teknik dan industri, yang
dipentingkan adalah kebudayaan.Inti kota dengan aliran ini adalah
kegiatanbersama dalam kebudayaan seperti tempat-tempat umum dimana kebudayaan
berkembang dan manusia saling berjumpa.
§ Aliran Alamiah.
Kota
dengan aliran ini teknik diusahakan tidak merusak alam dan kebudayaan. Alam
menjadi pusat segalanya. Manusia harus tinggal di rumah yang di kelilingi
pekarangan kota terdiri dari sel-sel yang dihubungkan oleh jalan-jalan.
4. URBANISASI DAN TERBENTUKNYA KOTA DI INDONESIA.
Urbanisasi
dalam artian perkotaan adalah konsentrasi penduduk di suatu wilayah tertentu
yang kemudian membentuk kota.
Meskipun
demikian, dalam sejarah urbanisasi besar-besaran baru terjadi setelah revolusi
industri di Eropa pada abad XVIII dan dio sebabkan timbnulnya industri secara
besar-besaran mengakibatkan tenaga kerja mengalir di desa – desa ke kota-kota
pusat industri yang menyebabkan timbulnya kota – kota industri di Eropa.
Kota-kota
tersebut mendorong masyarakat yang aktif dalam perdagangan meninggalkan desanya
lalu berdiam di kota.
Pemusatan
pasar memungkinkan tumbuhnya urbanisasi karena intensifnya kegiayatan ekonomi.
Kota-kota yang tumbuh karena kegiayatan ini,adalah kota-kota di pesisir utara
jawa.
Pada
akhir abad ke – 19 hampir semua kota-kota penting di jawa sudah terhubungkan
jaringan lalu ;lintas kereta api, jalan raya pos. Jaringan kereta api ini
mendorong urbanisasi.
Penataan
kawasan pemukiman kota pada masa kolonial menggunakan segregasi etnik. Tetapi
tidak berlaku di kota jogjakarta, surakarta dan cirebon. Di makassar pada abad
ke-20 perkembangan fisik kotanya di arahkan ke kawasan selatan dan timur
memasuki wilayah gowa dan maros pada tahun 1971. Kawasan hunian kota makassar
di kembangkan dengan pendekatan perencanaan formal rumah golangan elit dengan
rumah tunggal berhalaman sempit dan rumah berpetak – petak dengan halam sangat
sempit serta rumah susun untuk masyarakat.
5. MASALAH PERKOTAAN.
Ø TRANSPORTASI KOTA.
Transportasi sangat di butuhkan oleh penduduk
kota, untuk menjalankan aktifitas sosial, ekonomi,plitik dan budayanya.tanpa
transportasi yang memadai dari segi jumlah dan jenisnya, aktifitas peduduk di
perkotaan akan mengalami gangguan. Demikian halnya dengan pengaturan
transportasi perkotaan banyak menimbulkan masalah.
Faktor-faktor yang menjadi pemicu masalah transportasi ( kebisingan,
polusi udara, kemacetan lalulintas, rusaknya moral bahkan konflik internal ).
Pada abad
ke-17 hingga abad ke-19, saat mobilitas warga kota dengan kegiatan ekonomi
masih terbatas, maka jalanan poros, dan jalur-jalur di kota fungsinya masih
sangat terbatas , yakni sebagai tempat pejalan kaki, penunggang kuda atau untuk
memperlancar patroli keamanan dan pemungutan pajak serta lalu lintas
barang-barang hasil pertanian di wilayah pedalaman.
Tarif
transportasi kota yang seringkali naik mengakibatkan mahasiswa melakukan
kritik. Akibatnya adalah bentrok dengan aparat yang bertugas mengamankan kota.
Marbun (
1988 ), mengajukan rujukan bagi pemerintah dalam pengembangan strategi
trnsportasi kota sebagai berikut :
Ø Perencanaan dan pembuatan
sarana jalan yang memadai utuk mendukung keperluan tranportasi, berupa
pembuatan jalan sekian KM, pembuatan jembatan – jembatan , pembuatan jalan
kereta api di bawah tanah , perluasan jalan dan penyediaan tempat parkir atau
terminal, pembutan kanal dan terminal kendaraan air secukupnya.
Ø Perencaan lokasi
pembangunan tempat tinggal ( pemukiman ), tempat kerja dan tempat rekreasi
sedemikian rupa hingga satu sama lain harmonis dan dapat di capai oelh warga
kota dengan cepat dan ekonomis.
Ø Perencanan dan penyediaan
sarana pengangkutan umum yang memadai untuk mendukung gerak lurus ekonomi kota
dalam arti arus pengangkutan manusia dan
arus pengangkutan barang berupa penyediaan bis dan angkutan umum lain seperti
kereta api bawah tanah, truk, taxi, dan jenis angkutan kecil( oplet, becak,
helicak).
Ø Pengaturan pola
lalulintas yang mantap sehingga memungkinkan kelancaran usaha di atas
Ø Pengaturan pola pemilikan
kendaraan pribadi dan kendaraan dinas sehingga tidak memberatkan atau
mengganggu strategi dan usaha 1,2,3 di atas.
Terhadap
masalah transportasi kota para pakar mengajukan usulan pemecahan masalah,
antara lain Marbun (1988) sebagai berikut :
·
Harus ada jaminan bahwa jalan-jalan di daerah yang padat atau
sering mengalami kongesti digunakan secara rasional.
·
Perbaikan manajemen usaha angkutan umum, disertai koordinasi dan
efesiensi yang optimal.
·
Menyesuaikan pola transportasi dengan bentuk kondisi kota, sehingga
efesiensi dalam transportasi mencapai tingkat optimal.
·
Pola perparkiran sesuai dengan zaman.
·
Perencanaan jangka panjang.
·
Perencanaan jangka panjang pembuatan atau pengadaan.
6. MASALAH KEBISINGAN DAN POLUSI DI PERKOTAAN.
Kota yang pada umumnya berawal dari suatu
pemukiman kecil, yang secara spasial mempunyai lokasi yang strategis bagi
kegiatan perdagangan. Seiring dengan perjalanan waktu, kota kemudian tidak
hanya pada kegiatan perdagangan tetapi juga berkembang dalam jumlah penduduk
dan menjadi pusat segala kegiatan.
Melalui
ensiklopedi nasional Indonesia dijelaskan bahwa kebisingan berasal dari kata
bising berarti suara atau bunyi gaduh yang terdengung sehingga memekakan
telinga. Sedangkan dalam kamus besar Indonesia dijelaskan bahwa bising berarti
suasana ramai yang hiruk pikuk. Di perkotaan, kebisingan itu sangat erat
kaitanya dengan transportasi.
7. MASALAH PERKOTAAN DEWASA INI.
§ SAMPAH.
Sampah merupakan sebuah masalah yang memerlukan
perhatian masyarakat dan pemerintah karena menjadi sumber polusi yang mengancam
lingkungan khususnya di perkotaan yang penduduknya padat, produksi sampah
setiap saat bertambah, sementara penanganannya hanya dalam batas ditimbun,
dibakar, belum seluruh kota di Indonesia sampai mendaur ulang.
ü Jenis dan sumber sampah.
Jika
dilihat dari sumbernya yakni dari rumah tangga dan industri, maka sampah terdiri atas sampah
domestik dan sampah industri dimana keduanya menyebabkan terjadinya polusi.
ü Penanggulangan sampah.
Penanggulangan sampah diperkotaan dengan daur ulang yang menggunakan
teknologi seperti diluar negeri belum dilakukan misalnya daur ulang tinja dan
limbah (air domestik, daur ulang gas SO2) yang merupakan zat pencemar yang
terbentuk dalam pembakaran BBM atau batu bara dalam pabrik dikumpulkan dan
diolah menjadi asam sulfat.
ü Tempat Hiburan Malam.
Tempat
hiburan malam merupakan satu fenomena kehidupan di perkotaan. Di satu sisi
berperan di dalam meningkatkan pendapatan pemerintah kota karena pembayaran
pajak tempat hiburan malam (THM) tersebut. Di sisi lain, membuka peluang
mendapatkan pekerjaan bagi penyanyi , pemusik, dan pelayan. Tetapi di sisi lain
yang paling banyak di jumpai adalah menimbulkan prostitusi dan peredaran
narkoba.
ü Pengangguran.
Pengangguran berhubungan erat dengan kesempatan kerja. Di Indonesia
dewasa ini, kesempatan kerja menjadi sesuatu kebutuhan yang mendesak bagi 36
juta pengangguran. Pengangguran yang dimaksud adalah pengangguran terbuka yang
jumlahnya 5,1 juta orang, pencari kerja sejumlah 26 juta orang dan pengangguran
terselubung (Depnaker dan penuturan manaker bomer pasaribu, dalam makalah
Fitriani, FEIS, 2004). Kesempatan kerja harus tersedia bagi tenaga kerja Indonesia baik untuk lulusan SLTA maupun
lulusan pendidikan tinggi.
ü Pemukiman kumuh.
·
Gambaran umum pemukiman
Kumuh.
Pemukiman
kumuh biasanya terdapat pada lahan-lahan kosong perkotaan. Masalah yang di
hadapi di daerah kumuh adalah masalah ekonomi dan sosial. Disamping itu,
keacakan tata letak rumah mereka sebagaimana biasanya dijumpai, menggambarkan
adanya masalah yang berkepanjangan, yang berkaitan dengan pola jalan kota masa
mendatang, karena garis-garis batas letak tanah yang tidak beraturan menjadi
tetap, dan batas-batas pemilikkan tersebut akhirnya dianggap sah.
·
Penanggulangan Daerah
Pemukiman Kumuh.
Pemukiman
kumuh yang merupakan karakteristik umum perkotaan membawa dampak besar
menyebabkan pemerintah kota tidak tinggal diam. Penduduk yang tinggal di daerah
pemukiman kumuh sangat erat kaitannya dengan kemiskinan.Dimana hambatan yang
paling berat dalam menanggulangi masalah kemiskinan yaitu adanya adanya sikap
yang selalu terpukau pada masa pendek dari pada masa jangka panjang.
8. DAERAH KUMUH DI MAKASSAR.
v Latar Belakang Munculnya Daerah Kumuh Di perkotaan.
Munculnya
daerah kumuh di perkotaan di latar belakangi oleh banyak sebab.salah satu ahli
menjelaskan sebagai berikut :
Suparlan (1995 :91), menjelaskan.
·
Pertumbuhan penduduk yang pesat selama puluhan tahun terakhir.
·
Arus deras manusia mengalir ke kota-kota.
·
Negara berkembang tidak mampu memenuhi kebutuhan pertumbuhan kota
dengan penyediaan tanah dan rumah yang diperlukan guna menampung kaum pendatang
baru di kota-kota.
·
Kota merupakan daya tarik untuk mencari nafkah lebih baik bagi
keluarga.
·
Harga rumah / sewa rumah yang mahal.
·
Perhatian pemerintah yang kurang terhadap perkampungan melarat dan
penghuni gubuk-gubuk liar.
·
Kekurangan biaya dari pemerintah kota untuk mengambil
tindakan-tindakan yang semestinya.
Ø Karakteristik Daerah Kumuh Di kota Makassar.
Menurut
Hendro bahwa karakteristik daerah kumuh yang paling menonjol terlihat dari
kualitas bangunan rumahnya yang tidak permanen, dengan kerapan bangunan yang
tinggi dan tidak teratur, prasarana jalan yang terbatas kalaupun ada berupa
gang-gang sempit yang berliku-liku, tidak adanya saluran drainase dan jorok.
Tidak jarang pula pemukiman kumuh terdapat di daerah yang secara berkala
mengalami banjir.
Ø Pekerjaan Penduduk Daerah Kumuh Di Kota Makassar.
Di kota
makassar, jenis pekerjaan penduduk daerah kumuh sebagian besar terserap di
sektor informal seperti pengendara becak, tukang kayu, pedagang kaki lima,
pedagang makanan, buruh pelabuhan, penjaja makanan dan minuman, penjual daging
serta sayuran.
Ø Pola Pengembangan Kota Makassar.
Kota
makassar mempunyai pola perkembangan sebagai berikut : Pola menyebar yang di
tandai oleh :
ü Penataan keseimbangan
yang serasi dengan kota-kota sehingga dapat mendukung penyebaran kegiatan
ekonomi dalam dimensi ruang nasional atau sebagai pusat pengembangan nasional.
ü Untuk meningkatkan
kesejahteraan, diupayakan memenuhi kebutuhan dasar perkotaan masyarakat.
ü Penataan secara intensif
pada kawasan-kawasan yang cepat berkembang sehingga dapat dengan baik melayani
pertumbuhan ekonomi dan pelayanan masyarakat dan wilayah sekitarnya.
ü Untuk menghindari tekanan
lingkungan dikawasan cepat berkembang diperlukan pembangunan wilayah yang
sesuai konsep pengembangan yang berperan sebagai kota penyanggah agar arus
migrasi dari kawasan sekitarnya tidak langsung ke kota utama.
ü Mengarahkan pengembangan
kawasan prioritas sesuai potensi dari perkembangan yang dicapai, serta prospek
pengembangan yang pengamanannya dimasa yang akan datang, maka di kota makassar
di tetapkan lima kawasan prioritas yaitu kawasan prioritas Wajo, kawasan
prioritas Panakkukang, kawasan prioritas Ujungpandang, kawasan prioritas
Tamalate, kawasan prioritas Biring kanaya.
Penyebab
terjadinya daerah kumuh di kota Makassar adalah : (1) Migrasi, (2) Kepadatan
penduduk, (3) Penghasilan rendah, sehingga tidak sanggup membeli lokasi dan
rumah yang layak, (4) Tanah perkotaan dan rumah mahal, (5) Munculnya
pemukiman-pemukiman baru, (6) Perkampungan lama yang tidak mendapat perhatian
dari pemerintah kota, (7) Pemerintah tidak tegas dalam menegakan peraturan pola
peruntukkan lahan di perkotaan, (8) Tingginya KKN, (9) Fasilitas perkotaan yang
tidak merata, (10) Swadaya masyarakat yang rendah, (11) Rendahnya kesadaran
untuk hidup bersih, teratur dan sehat.
Kenyataan
empirik memperlihatkan daerah kumuh di Makassar menjadi :
-
Lokasi pemukiman
-
Lokasi tempat kerja
-
Tingkat kepadatan penduduk tinggi
-
Penghasilan rendah
-
Masyarakat marginal
-
Putus sekolah
-
Lokasi pengangguran
-
Kemiskinan
-
Fasilitas perkotaan, kotor, dan tidak teratur
-
Pencemaran lingkungan
-
Ketidakadilan
-
Pelanggaran peraturan tata kota
-
Perencanaan kota yang tidak konsisten
-
Pemerintah yang kurang peduli.
Berdasarkan
uraian tersebut maka dipahami beberapa kondisi mengenai pemukiman kumuh di kota
Makassar sebagai berikut : (1) Daerah kumuh terbentuk karena kepadatan
penduduk, kemiskinan dan ketidakadilan, peraturan yang tidak tegas dalam
pengembangan pola Tata ruang perkotaan. (2) Daerah kumuh di perkotaan Makassar
adalah daerah miskin yang dihuni penduduk berpenghasilan rendah, pengangguran,
anak-anak putus sekolah, Wanita tanpa keterampilan. (3) Bentuk fisik daerah
kumuh adalah kotor, fasilitas perkotaan yang minim, rumah yang tidak teratur,
jalan-jalan kecil yang becek. (4) Daerah kumuh di perkotaan Makassar tersebar
diseluruh penjuru kota, di wilayah pantai inti kota, di tengah kota, di tepi
kota, dijalan-jalan utama, di wilayah
peruntukan pendidikan, ekonomi, industri, dan wilayah perkantoran. (5) Daerah
kumuh di perkotaan Makassar, mengubah wajah kota menjadi kotor dan semrawut
serta merusak pola ruang kota yang telah diatur peruntukan tanahnya. (6) Daerah
kumuh dalam bentuk pemukiman penduduk dan tempat mencari nafkah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar