Rabu, 17 Oktober 2012


v  Ilmu Kependudukan Dan Demografi
 
Studi kependudukan merupakan istilah lain bagi ilmu kependudukan yang digunakan disini.Studi kependudukan terdiri dari analisa-analisa yang bertujuan dan mencakup:
1.      Memperoleh informasi dasar tentang distribusi penduduk,karakteristik,dan perubahan-perubahannya.
2.      Menerangkan sebab-sebab perubahan dari faktor dasar tersebut.
3.      Menganalisa segala konsekuensi yang mungkin sekali terjadi di masa depan sebagai hasil perubahan-perubahan itu.
  Demografi menurut Guillard adalah studi ilmiah terhadap penduduk manusia, terutama mengenai jumlah, struktur, dan perkembangannya.
  Demografi menurut Bogue adalah studi matematik dan statistik terhadap jumlah, komposisi, dan distribusi spasial dari penduduk manusia, dan perubahan-perubahan dari aspek-aspek tersebut yang senantiasa terjadi sebagai akibat bekerjanya lima proses yaitu; fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi, dan mobilitas sosial.
  Pemisahan antara studi kependudukan dan analisa demografi telah dilakukan oleh Hauser yang menyatakan bahwa:
1.      Analisa demografi merupakan analisa statistik terhadap jumlah, distribusi, dan komposisi penduduk, serta komponen-komponen variasinya dan perubahan. Sedangkan,
2.      Studi kependudukan mempersoalkan hubungan-hubungan antara variabel demografi dan variabel dari sistem lain.
  Studi kependudukan dapat pula dilihat sebagai mencakup penelitian makro demografi dan mikro demografi. Sasaran ruang lingkup daerah penelitian makro demografi adalah benua, bangsa, dan kesatuan-kesatuan wilayah yang luas seperti propinsi dan kota-kota besar. Sedangkan penelitian mikro demografi merupakan penelitian unit skala kecil yang umumnya bersifat internal. Penelitian mikro demografi memusatkan diri atas individu, kesatuan-kesatuan keluarga autonomous, kelompok-kelompok kecil dan lingkungan ketetanggaan.


ü  Robert Thomas Malthus dan Teori-teori Alamiah.
  Robert Thomas Malthus (1766 - 1834) terkenal sebagai pelopor ilmu kependudukan. Malthus memulai dengan merumuskan dua postulat yaitu:
1.      Bahwa pangan dibutuhkan untuk hidup manusia.
2.      Bahwa kebutuhan nafsu seksuil antar jenis kelamin akan tetap sifatnya sepanjang masa.
  Atas dasar postulat tersebut Malthus menyatakan bahwa, jika tidak ada pengekangan, kecendurungan pertambahan jumlah manusia akan lebih cepat dari pertambahan subsisten (pangan).
  Menurut Malthus, pengekangan perkembangan penduduk dapat berupa pengekangan segera dan pengekangan hakiki. Yang dimaksud dengan faktor pengekangan hakiki adalah pangan, sedangkan pengekangan segera dapat berbentuk pengekangan prefentif dan pengekangan positip. Pengekangan prefentif adalah faktor-faktor yang bekerja mengurangi angka kelahiran. Pengekangan positip merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi angka kematian, dapat berupa epidemi, penyakit-penyakit dan kemiskinan.
ü  Teori transisi demografi dan lain-lain aliran pemikiran.
  Teori transisi demografi menyatakan bahwa setiap masyarakat memulai dengan fase angka kelahiran-kematian tinggi, kemudian disusul oleh fase menurunnya angka kematian sementara angka kelahiran masih tetap tinggi dan fase menurunnya angka kelahiran secara berlahan-lahan hingga berada pada angka kelahiran dan kematian rendah.
  Akhirnya patut disebut aliran pemikiran yang dipelopori Marx yang lebih merupakan doktrin sosial mengenai kependudukan. Adanya surplus penduduk dan kemiskinan semata-mata merupakan akibat logis dari sistem kapitalisme. Dengan demikian pemecahannya menurut aliran pemikiran ini haruslah melalui suatu revolusi sosialis.

  Transisi Mobilitas

ü  Perubahan Indeks Migrasi
  Mobilitas permanen yang biasa disebut dengan migrasi tampaknya akan mengalami penurunan, dan akan di ganti dengan mobilitas nonpermanen. Pola ini terjadi karena terciptanya berbagai prasarana komunikasi dan transportasi. Namun peningkatan pendapatan, pendidikan, dan adanya jumlah anak yang kecil juga memunculkan kebutuhan untuk terus diciptakannya prasarana informasi dan transportasi tersebut.
  Kebutuhan untuk melakukan mobilitas nonpermanen pun dapat berubah menjadi kebutuhan untuk menetap di suatu tempat, yang dari tempat tersebut orang dapat memperoleh barang dan jasa yang tersedia di tempat lain. Kalau kebutuhan ini terpenuhi, penduduk dapat mengurangi mobilitas mereka. Mereka akan memilih pergi kesuatu tempat yang strategis, yang dari tempat itu mereka dapat memenuhi kebutuhan lainnya yang secara geografis terletak di daerah yang berbeda, bahkan jauh dari tempat mereka menetap.
ü  Peningkatan Urbanisasi
  Dilihat dari distribusi menurut perkotaan-pedesaan, Indonesia telah dan akan terus mengalami perubahan dalam komposisi. Angka urbanisasi, yaitu presentase penduduk yang tinggal diperkotaan, dari sekitar 17,1% pada tahun 1971 menjadi 22,4% pada tahun 1980 dan 30,9% pada tahun 1990. Angka ini diperkirakan terus meningkat menjadi 36,8% pada tahun 1995 dan 46,01% pada tahun 2005 serta 55,2% pada tahun 2020. Dengan kata lain, persentase penduduk yang tinggal di pedesaan akan terus menurun. Mulai tahun2015 secara absolut jumlah penduduk perkotaan akan lebih banyak dari pada jumlah penduduk pedesaan.
  Teori konvensional mengenai perkotaan mengatakan bahwa kemajuan dalam pembangunan ekonomi akan menciptakan kebutuhan barang dan jasa yang khas perkotaan. Permintaan ini kemudian ditanggapi oleh penduduk, dan kemudian terjadilah berbagai sarana perkotaan, yang akhirnya menciptakan wilayah perkotaan.


ü  Mobilitas Internasional
  Pada tingkat internasional migrasi (mobilitas permanen) neto tampaknya tetap tak akan mempunyai pengaruh yang berarti, semata karena jumlah penduduk Indonesia sudah amat besar. Namun perubahan dalam pola mobilitas internasional akan tampak jelas.
  Mobilitas nonpermanen adalah mobilitas penduduk yang tidak menyebabkan perubahan tempat tinggal. Bila seseorang berpindah ke daerah lain selama tiga bulan, kemudian kembali ke daerah asalnya, dia tidak di katakan bermigrasi, tetapi melakukan mobilitas nonpermanen.
  Indeks migrasi masuk ini dihitung dengan gross in-migraproduction rate, yang merupakan penjumlahan dari age-specific in-migration rate.
  Indeks migrasi keluar merupakan penjumlahan dari age – specific out-migration rate. Indeks ini dikenal juga dengan istilah gross out-migraproduction rate.
  Suatu wilayah disebut perkotaan bila wilayah tersebut memenuhi beberapa syarat perkotaan. Biro pusat statistik (1993) menyebutkan kriteria perkotaan sebagai berikut:
a.       Jika daerah tersebut mempunyai kepadatan penduduk lebih besar atau sama dengan 5.000 per kilometer persegi.
b.      Jika daerah tersebut mempunyai presentase penduduk yang bekerja disektor pertanian tidak lebih dari 25%.
c.       Jika daerah tersebut mempunyai jumlah berbagai fasilitas umum seperti kantor pos, bank, bioskop, rumah sakit, dan gedung sekolah tidak kurang dari delapan buah.
  Dalam tulisan ini, bila seorang penduduk indonesia dikatakan pindah dan menetap di negeri lain, tidak otomatis berarti bahwa dia berganti kewarganegaraan. Istilah menetap hanya untuk membedakan antara mereka yang melakukan mobilitas nonpermanen dan mobilitas permanen.
v  Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan perekonomian.
  Pertumbuhan penduduk adalah perubahan populasi sewaktu-waktu, dan dapat dihitung sebagai perubahan dalam jumlah individu dalam sebuah populasi menggunakan “per waktu unit” untuk pengukuran. Sebutan pertumbuhan penduduk merujuk pada semua spesies, tapi selalu mengarah pada manusia, dan sering digunakan secara informal untuk sebutan demografi nilai pertumbuhan penduduk, dan digunakan untuk merujuk pada pertumbuhan penduduk dunia.
  Pada dasarnya  pertumbuhan  ekonomi dapat didefinisikan sebagai kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produk barang dan jasa mengalami peningkatan. Pertumbuhan output ini tercermin dalam nilai Produk Domestik Bruto.
  Pertumbuhan ekonomi terjadi apabila :
(1) Masyarakat mendapatkan lebih banyak sumber daya,
 (2) Masyarakat menemukan cara penggunaan sumber daya yang tersedia secara lebih efisien.
Agar pertumbuhan ekonomi dapat menaikkan standar hidup, tingkat pertumbuhan harus melebihi tingkat kenaikan penduduk. Ada dua aliran mengenai pertumbuhan ekonomi dilihat dari sisi penawaran agregat (produksi), yakni teori neoklasik dan teori modern. Dalam teori neoklasik, faktor-faktor produksi yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan keluaran adalah jumlah tenaga kerja dan kapital. Kapital dapat berupa keuangan atau barang modal (seperti mesin). Teori ini tidak memperhatikan peranan teknologi sebagai faktor yang berpengaruh terhadap keluaran, tapi lebih menitik beratkan terhadap efek positif dari akumulasi capital (investasi) terhadap pertumbuhan ekonomi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar